Senin, 07 Desember 2009

Goa Jepang



Hampir sebagian besar peninggalan Perang Dunia Kedua terdapat di tanah Papua khususnya di Pulau Biak Numfor, Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua. Bandara Internasional Frans Kaisiepo pun merupakan peninggalan perang. Namun yang selalu dikunjungi turis nusantara maupun Manca Negara di Biak, jelas Goa Jepang.

Bagi masyarakat Kampung Ambroben Sub mereka menyebut goa Jepang dengan nama Abyab Binsari. Abyab dalam bahasa Byak artinya goa dan Bin sari artinya nenek yang menemukan goa itu.

Menurut cerita masyarakat Kampung Ambroben sejak dahulu seorang nenek tua yang membuat kebun di sekitar lokasi itu, suatu ketika ia merasa haus dan berjalan memasuki lorong goa gelap. Tanpa disengaja ia berjalan masuk ke dalam mulut goa dan menemukan air yang menetes jatuh dalam batuan stalagnit. Si nenek lalu meminum air yang terdapat dalam goa itu. Saat itu setiap kali ia bekerja dan membersihkan kebun si nenek selalu duduk beristirahat dalam goa sehingga masyarakat di Kampung Ambroben Sub menyebut nama goa itu Bin Sari yang artinya goa nenek tua atau nenek yang menemukan goa itu.

Goa yang letaknya di sekitar Kampung Ambroben Distrik Biak Timur kini lebih popular dengan nama goa Jepang karena sejak Perang Dunia Kedua tentara Jepang memakainya sebagai tempat persembunyian dan benteng pertahanan. Dalam peperangan di Biak tentara sekutu sulit menaklukan pertahanan mereka di Biak.

Ketika perang dunia kedua sekitar tahun 1942 di Biak terdapat sebanyak 10.400 serdadu Jepang yang bertahan di pulau itu. Kolonel Kuzume Naoyuki yang memimpin anak buahnya menggunakan goa itu sebagai benteng pertahanan dan bersembunyi di lokasi goa Binsari. Di dalam goa Binsari tercatat ada 250 serdadu Jepang yang mati terbakar, setelah dijatuhi 850 pon TNT karena tantara AS menuangkan minyak ke dalam mulut goa. Letjend Roberth L Eichelberger dalam bukunya berjudul Jungle Road to Tokyo mengatakan, "Ketika kami memasuki goa-goa itu aroma bau mayat yang menyengat menyambut kami. Rupanya peluru, granat, gasoline dan TNT telah melakukan tugasnya dengan baik." Kini sisa-sisa kekejaman Perang Dunia Kedua bisa terekam jelas dalam Goa Jepang di Biak. Peluru dan senjata tertata rapih dalam museum di pintu masuk goa begitu pula dengan monumen Jepang di sekitar Goa Jepang.

Selain goa Jepang di Kampung Ambroben Sub ada pula goa lain dekat Kali Ruar di jalan raya menuju Biak Bosnik tepatnya Kampung Rim. Paulus Kafiar pengelola goa Jepang lima kamar di Kampung Rim menuturkan seorang turis asal Amerika pernah memprotes pemberian nama goa Jepang. Pasalnya kata Paulus kalau goa itu tidak ada di sini dan tentara Jepang membawa langsung dari Jepang baru bisa dinamakan goa Jepang karena itu sebaiknya memakai bahasa daerah. Akhirnya disebut goa lima kamar atau dalam bahasa Biak disebut Abyab Sim Di Rim.

Goa lima kamar panjangnya sekitar 18 meter dan berbentuk huruf L lalu menjorok ke atas seperti huruf U. Kamar pertama terdapat kerangka serdadu Jepang tetapi sudah dikembalikan ke Jepang dan terdapat pula masker-masker seperti biasa dipakai dalam olahraga anggar. Orang Jepang menyebut masker itu Kendo. Kamar kedua ditemukan botol-botol bekas obat, thermometer, sample-sampel darah, kaca pemeriksa darah. Kamar ketiga tepat berada di bawah jalan raya Bosnik. Kamar ketiga terdapat air tawar dan tentara Jepang memakai ruang ini sebagai kamar mandi. Terbukti di dalam kamar ketiga ini ditemukan sikat gigi, tempat menyimpan sabun mandi yang terbuat dari kulit penyu. Kamar keempat merupakan ruang dokumenter atau kantor sebab tersimpan busur derajat, penjepit kertas dan kamera. Sedangkan ruang kelima untuk tempat memantau dan mengintai ke luar.

Penerangan dalam goa tentara Jepang menggunakan getah kayu dammar sebagai lilin. Terbukti dalam kamar-kamar goa terdapat getah dammar. Terlepas dari kekejaman perang, sebenarnya goa-goa sisa pertempuran di Biak bisa menjadi saksi bisu yang mengatakan bahwa perang adalah kesia-siaan.

Sop Island,Sorong


Pulau Sop memiliki atraksi dengan pasir putih yang melebar ke arah laut kurang lebih 100 meter di arah utara. Di sebelah barat terdapat batu-batuan besar yang bertebaran di tepi pantai yang oleh para tentara Jepang pernah dijadikan basis pertahanan udara. Atraksi yang lain adalah sisa-sisa tempat persembunyian pada saat Perang Dunia II yang berupa gua batu dan lubang bagi senjata mesin yang di arahkan ke airport Jefman.Perpaduan wisata sejarah tentara Jepang dan wisata alam yang menawarkan keindahan panorama laut, bentangan pasir putih yang luas dilatar belakangi oleh Pulau Batanta dapat memberikan ketenangan dan kedamaian bagi pengunjung yang ingin berekreasi di pulau ini. Sementara aktivitas wisata yang dapat dilakukan di Pulau Sop adalah berenang, berperahu tradisional, dan memancing.Pulau Sop dikelola oleh Pemerintah Kota Sorong dan masyarakat memiliki fasilitas transportasi laut, sarana penangkapan ikan dan bangunan rumah tradisional. Pulau ini dapat ditempuh dengan menggunakan motor tempel atau speed boat kurang lebih 7-12 menit dari Pelabuhan Sorong-Doom Kota Sorong.

Raja Ampat


Lokasi Penyelaman di Raja Ampat pertama kali di temukan oleh Max Ammer berkebangsaan Belanda pada tahun 1990. lokasi penyelaman Pulau Raja Ampat Koordinat: (0°30′0″S 130°0′0″E / 0.5°S 130°E / -0.5; 130) 50 mil atau memakan waktu 2 jam dengan mempergunakan speedboat dari pelabuhan Jeftman Sorong.

Cartenz or Benggela


At 16,023ft (4,884 m), Carstensz Pyramid, or Benggela (moni tribe"highest place") or Puncak Jaya ("Victory Peak") as the Indonesians call it, is located in the western central highlands and is the highest peak in Oceania, Australia continent. The mountain was named after Jan Carstensz, a Dutch explorer who was the first European to sight the peak.In 1936, the Royal Netherlands Geographical Society sponsored Colijn and two companions in another attempt to climb the island's highest peak. They climbed Ngga Pulu, which they thought to be the highest. With the rapid shrinking of the region's glaciers, the rocky summit of Carstenz has since been found to be higher. War then intervened, and throughout the 50s, the Himalayas and Andes were the focal point of Mountaineering. It was not until 1960s that climbers began to think seriously of Carstensz/Benggela once more.In 1962, Heinrich Harrer became the first foreigner to reach the peak. He was a veteran of the first ascent of the Eiger's North Face. Harrer also recruited Russell Kippax, and a Dutch patrol officer, Albert Huizenga. This time, the airdrop went as planned and the group climbed 32 summits, including the first ascent of the Carstensz Pyramid by what is now the Normal Route via the North FAce and upper West Ridge. His book, "I Come from the Stone Age", provides excellent reading about climbing Carstensz and other peaks in the area as well as his experiences while living with the Dani.